Tampilkan postingan dengan label About Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Me. Tampilkan semua postingan
21 Maret, 2013 0 komentar

Semangat Juara ( Part 3 )


Senyum Semangat

Setelah itu kami bertiga pergi mencari teman-teman lain yang sudah selesai berlomba. Kemudian kami berkumpul, ada yang sibuk dengan cerita-cerita selama dalam perlombaan, ada yang sibuk makan, bercanda, ada yang sibuk mencari tempat ibadah guna bersyukur pada Tuhannya, ada juga yang sibuk menghubungi kekasihnya, ada juga yang murung ntah karena penyesalan atas kesalahan yang dia perbuat ketika perlombaan tadi. Ntahlah, gue tidak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, intinya kami semua berkumpul beristirahat setelah melewati pertempuran dengan perasaan yang begitu hebat.

Gue menyandarkan tubuh yang lelah pada bangku tembok. Sejauh mata memandang terlihat langit siang yang begitu biru yang cerahnya menelusup masuk kedalam dada, gue tersenyum tanpa ampun


 
Dalam pandangan gue yang menerawang jauh batas senyuman, lagi-lagi gue teringat seseorang. Rahmi. Sampai sejauh ini gue betul-betul menyadari, gue begitu semangat sampai pada saat ini karena dia. Iya, dia selalu ada dalam posisi terbaik yang gue lakukan, walaupun sebenarnya dia tidak secara langsung berkata “Semangat yaa” kepada gue, tapi semangatnya tersampaikan langsung. Langsung ada disini :)

“Dil, kira-kira bisa menang gak ya?” tiba-tiba Mahendra memotong lamunan gue

“apa hek? Apa kata lo?”

Dengan nada pelan Mahendra mengulang perkataannya “kira-kira kita menang apa nggak?”

“Ya menang laaaah!! Ah yakin aja Hek” jawab gue mantab sambil menepuk pundak Mahendra.
Kemudian kami makan siang dengan sebungkus nasi, diselingi canda tawa.


Selesai makan, kami berkeliling kembali di sekitar area perlombaan. Gue menemukan wahana keren, semacam jerapah, tapi lebih mirip peliharaan gue di rumah. Unyu ya? Lihat mukanya, lucu kan?


 Gue dan Mahendra kembali ke lantai 4 tempat berlangsungnya perlombaan lain dengan mendaki tangga yang ketika itu terasa begitu terjal. Anak-anak tangga seolah berkata “Ayoo semangat dikit lagi sampai”


Sekitar jam setengah empat sore, gue dan Mahendra datang ke aula tempat penutupan acara sekaligus pengumuman para pemenang lomba. Disana gue melihat Faras sedang duduk. Ah waktu itu kami benar-benar sudah tidak sabar menunggu pengumuman, ternyata pengumuman masih akan dimulai jam 5 sore. Aih.

“ah masih lama, ehiya! Kita belum solat“ gue mengagetkan Mahendra.

“Ohiya woy solat! Kamuorang belum solat juga?” Faras memotong.
 
“Iyaya solat” Mahendra menjawab. Disaat seperti itu kami hampir saja lupa utuk mengambil air wudhu dan bersujud kepada Allah SWT. Kami bertiga pun bergegas pergi ke mushola seraya menundukkan kepala sejenak dan menyentuhkan kening kami pada kain sajadah.



Setelah solat, gue merasa begitu segar begitu pula Mahendra dan Faras, dan tentunya kami tidak lupa berdoa.

Kami kembali ke lantai atas tempat berlangsungnya acara penutupan dan pengumuman pemenang lomba.

“Bagaimanaaa? pasti kalian sudah tidak sabar kaaan?” seorang host acara tersebut membuka pembicaraan. Semua yang ada dalam ruangan dibuat tak sabar menunggu begitu pula gue. Setelah sekian lama basa basi, saat yang di tunggu-tunggu tiba. Pengumuman mulai dibacakan. Wajah super absurd ditunjukan oleh berbagai peserta lomba yang menunggu hasil pengumuman. Lomba pertama yang dibacakan adalah WordProcessing, dan salah salatu teman gue dari SMA AL-KAUTSAR mendapat juara satu. Mira Nurul. Gue merasa begitu bersemangat, walaupun bukan gue yang juara, tapi gue berfikir “Suatu pembukaan yang manis!” begitu pula pembacaan lomba ke-2, ke-3, ke-4 dan seterusnya, sekolah gue mendapat juara. Ketika itu gue semakin optimis dan masih penuh semangat keyakinan gue akan mendapatkan sebuah piala yang nantinya akan gue tunjukan kepada orang tua gue tentunya. Mereka pasti senang.

Ketika pembacaan Web Blog mulai dibacakan… pemenang juara tiga? Tidak terdengar nama gue. Pemenang juara dua? Tidak terdengar nama gue. Ah ketika itu gue mulai pesimis bahwa gue, Mahendra, Panca kecil kemungkinan bisa juara satu. Tapi.. “juara satu diraih oleeeeh… Rahmad Mahendra dari SMA AL-KAUTSAR” ah perasaan gue campur aduk, antara senang karena salah satu teman gue mendapatkan juara satu, tapi di sisi lain gue juga merasa agak gimanaa gitu, pokoknya perasaan yang tidak bisa gue jelaskan dengan mudahnya.  Gue kembali menyimak pengumuman pemenang lomba-lomba lain. Sampai akhirnya sekolah gue SMA AL-KAUTSAR diumumkan menjadi juara umum yang ke-5 kali berturut-turut pada lomba itu. Ah, gue tetap senang.

Gue melihat Faras, ia begitu murung setelah mengetahui lomba yang ia ikuti bersama Iwan tidak berhasil menjadi juara “Bagi gue nggak juara satu berarti nggak juara” pernyataan Faras dengan nada keras.
“udahlah Ras namanya juga lomba, kita juga baru pertama kali ikut, short movie mereka juga memang bagus” Iwan menguatkan Faras dengan nada pelan.

“Iya Ras, seseorang yang sudah tahu bahwa dirinya kalah tetapi dia masih bersemangat dia juga bisa desebut seorang pemenang” gue meyakinkan sambil menepuk pundak Faras.

“nggak bisa” Faras memalingkan wajahnya.

“yang penting kita masih bisa jadi pemenang bagi diri kita sendiri” gue kembali meyakinkan. Faras tersenyum penuh. Kami semua pun tersenyum dengan tertawa-tertawa kecil.
Setelah selesai acara pengumuman pemenang lomba. Kami tidak langsung pulang, kami saling mengucapkan selamat, mengabadikan moment-moment berharga. Ah, seru.

“Ehmm !?” Ori memukul pundak gue mengagetkan dari belakang.

“Eh Ori” jawab gue dengan senyum.

“jangan sedih dil, masih banyak lomba-lomba lainnya ehehe tenang aja, masih banyak kesempatan kok” Ori berkata sambil tertawa kecil.

“Lah siapa yang sedih? Gue seneng gini. Kita berdua kan pemenang lomba juara umum AHAHAHA” jawab gue sedikit bercanda.

“eh iya juga ya ahaha” Ori tertawa “tapi yang penting dil.. mereka senang kitapun senaaaaang” Ori melanjutkan pembicaraan. Kemudian terdengar tawa yang keras diantara kami berdua.

~

Di lantai bawah, sebagian dari kami kembali berkumpul, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Guntur yang telah membimbing kami.


Terlihat Mahendra yang sedang melepas lelah disamping piala kemenangannya.


Sekitar pukul 6 sore kami semua pulang. Sesampainya di depan rumah gue berdiri menatap pintu, gue terfikir sesuatu “ah coba saja hari ini gue berhasil membawa sebuah piala sampai depan pintu ini, mungkin gue akan mengejutkan dan merubah ekspresi wajah orang tua gue yang mungkin saja akan tambah melengkungkan kedua tebing pipinya begitu ia membukakan pintu ini ahaha” wajar, pada hari itu mereka tidak tahu gue sedang mengikuti sebuah lomba. Tapi saat itu gue tetap melihat orang tua gue membuka pintu dengan senyum yang sama dan gue pun ikut tersenyum :) Hari itu semua terasa begitu manis.
20 Maret, 2013 0 komentar

Semangat Juara ( Part 2 )


Sambungan dari Semangat Juara

Perlombaan

Pagi hari sekali gue terbangun, tibalah hari yang gue tunggu-tunggu. Bukan hari perkawinan, melainkan hari diselenggarakannya TCC2013 ( Teknokrat Computer Competition ).
Gue merasa begitu bersemangat. Gue pergi ke sekolah dengan perasaan penuh keyakinan. 

Dalam perjalanan menuju sekolah, terlihat patung Raden Inten II berdiri begitu gagah semangat di tengah keramaian kota. Semangatnya tersiram matahari pagi dan langsung menerpa tubuh gue. Ntahlah, mungkin hanya perasaan gue saja :)


Terlihat gerbang sekolah mulai sepi, gue menerkanerka bahwa sepertinya gue sudah terlambat sampai sekolah, gue mulai mempercepat langkah, dengan penuh semangat gue berlari.



~

Tibalah kami semua di tempat berlangsungnya acara pembukaan TCC2013.

Panitia membagikan makanan kecil bagi para peserta yang hadir dalam acara pembukaan. Kebetulan sepertinya perut gue ikut merayakan. Masih pagi sudah lapar. Makanan kecil yang baru saja dibagikan pun habis begitu saja. Perut biadab.


Karena gue mulai bosan dengan acara pembukaan itu, gue dan mahendra mulai menjelajah gedung tempat dilaksanakannya lomba. Tiba-tiba Mahendra kebelet buang air, dia bingung dimana ada toilet di gedung ini, sampai akhirnya kami menemukan pintu. Pintu kemana saja milik doraemon

"Hek kayaknya ini toilet! iya gue yakin gue toilet" gue bersuara.

"ah bukan, kok nggak ada tulisan toilet diatasnya?" jawab Mahendra ragu.

"iya juga, tapi liat tuh ke bawah ada keset tulisannya 'welcome' artinya 'Toilet Gratis'. Dah sana nyusahin aja lo" gue menjawab asal.

"tapi gue takut dil, itu pintu mirip dengan pintu kemana saja doraemon, siapa tau pas gue buka gue pergi ke negri kincir angin kan nggak lucu" Mahendra nyengir. Gue melempar sebuah baling-baling bambu ke wajahnya.

~

Ditengah-tengah acara pembukaan lomba, gue melihat Faras dan Iwan, mereka mengikuti lomba Short Movie, sebenarnya gue juga mau ikut lomba itu, tapi gue pikir, gue harus fokus pada satu keinginginan. Gue, Faras dan iwan pun saling memberikan semangat.

Ketika perlombaan sudah hampir dimulai, semua peserta dituntun masuk kedalam ruangan perlombaan masing-masing. Gue, Mahendra dan Panca sudah berada diruang perlombaan Web Blog. Gue melihat lumayan banyak peserta yang hadir dalam ruangan. Sesekali gue mengintip peserta lain yang sedang sibuk dengan laptopnya, terlihat mereka sedang menge-check blog mereka, blog buatan mereka bagus-bagus namun gue tetep yakin dengan hasil kerjaan gue sendiri.

Peserta dipanggil satu persatu presentasi kedepan ruangan secara acak. Peserta pertama dipanggil, saat peserta pertama memulai presentasinya.. gue terdiam. Bagus. Keren. Presentasi peserta pertama itu juga begitu bersahabat dengan audience “Ah apa iya gue bisa menang kalo peserta pertamanya aja sudah nyaris buat gue nge-down” gue berbicara dalam hati. Tapi gue lagi-lagi berusaha meyakinkan diri gue sendiri “gue pasti bisa!”

Bermacam-macam jenis peserta gue temui di sana, ada yang blognya bagus dan presentasi bagus, ada yang blognya bagus tapi presentasinya kaku. Salah satu peserta ada yang unik, dia presentasi dengan berdiri di depan gue dan sepanjang presentasinya tatapannya hanya tertuju pada gue, jadi seperti ngobrol berdua dengan gue ( doang ) “Perkenalkan namanya saya….  jadi saya ini mau menjelaskan blog saya kak… blablablabla.. ada yang mau ditanyakan kak?”

“iya iya yaudah nggak ada” jawab gue.

“nggak ada ya kak? Yaudah kalau begitu saya tutup… blablabla”

Ada juga yang sepanjang presentasi dia ‘memantati’ audience. Ada juga yang sepanjang presentasi hanya seperti mengobrol berdua dengan laptopnya. Ada juga yang sepanjang presentasi seperti sedang mengheningkan cipta, pelaaaaan banget suaranya, sambil nunduk kebawah. Unik-unik.

“Peserta selanjutnyaaa… emm… M Fadhil F” Setelah beberapa peserta maju untuk mempresentasikan Blognya, nama gue pun terpanggil. Nggak tau kenapa, gak ada rasa nervous sama sekali dalam diri gue, gue berdiri dengan nafas berhembus normal “ah perasaan apa ini?! Nyaman sekali” bisik gue dalam hati. Gue mulai memperkenalkan diri, gue berusaha nyaman dengan pembicaraan gue. Sesekali gue bercanda demi menyegarkan suasana ruangan yang mulai terasa tawar, peserta lain ikut tertawa.

Setelah selesai presentasi, gue merasa begitu lega dan masih yakin pada hasilnya. Selanjutnya Panca yang maju presentasi dan Mahendra peserta yang terakhir.

Setelah semua peserta sudah selesai presentasi, semua dipersilahkan keluar dari ruangan. Semua keluar dengan perasaan lega, terutama gue Mahendra dan Panca, setelah di luar kami saling bertukar cerita menegangkan selama berada di dalam ruangan tadi. Kemudian kami juga saling memberikan semangat dengan menepuk pundak kami.

0 komentar

Semangat Juara


Hari-Hari Persiapan

Senin siang kali itu terasa begitu gerah. Tiba-tiba terdengar suara memanggil nama gue dari arah belakang sambil menepuk pundak gue.

“Dil sini gue kasih tau sesuatu, sini geh” Mahendra menarik gue menepi di depan kelas XI IPS I.


“Hah? Apa? Kasih tau apa?” Tanya gue kaget dan bingung.

“Jadi gini..” Mahendra senyum-senyum dan sedikit menunda pembicaraan.

“Apaan, cepet ngomong gue mau ke kelas” gue terburu-buru.

“Lo ikut lomba blog bareng gue, udah gue bilangin sama Pak Guntur” senyum Mahendra melebar hampir merobek pipinya.

“Aih! Serius lo?!” Senyum gue nggak kalah lebar, hampir merobek cakrawala.

“Iya gue serius. Nah tema blognya Go Green dil” Mahendra melengkapi pembicaraan.

Yak hari itu gue begitu senang, gue begitu bersemangat mendengar berita bahwa gue diikut sertakan dalam sebuah lomba Web Blog. Nge-blog adalah salah satu hobi gue. Gue senang. Gue berjalan menuju kelas dengan perasaan agak.. uwiiiiih. Gue begitu senang, jujur saja ini bisa dibilang lomba resmi pertama gue. Pernah sih beberapa waktu lalu gue mengikuti lomba English Club, gue ikut lomba Scrabble. Gue mendapat juara 37, iya, tiga puluh tujuh… dari 38 peserta. Ah sudahlah nggak perlu dibahas, kalo dibahas gue takut artikel ini malah nggak jadi dibuat.

Sepulang dari sekolah gue bergegas googling di internet demi mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat blog dengan tema “Go Green”. Sudah lumayan banyak bahan-bahan yang gue dapat dan gue juga sudah memulai membuat blog.

Keesokan harinya gue ke sekolah pagi-pagi. Gue lihat dua orang kawan gue Mira dan Alan terdampar di depan Pusdikom (Pusat Pendidikan Komputer).

“Hoy! Kalian mau latihan buat lomba juga ya? Kalian lomba apa?” Tanya gue semangat.

“Iya dil, kitaorang berdua lomba Word Processing. Lo juga lomba? Lomba apa lo?” Tanya Mira.

“ooh, kalo gue lomba Web Blog.” Gue menjawab dengan mantab.

Tidak lama Pak Guntur datang. Dia guru yang membimbing kami “Eh kalian sudah datang? Mana 
yang lain?”

“Yang lain? Emang banyak ya pak yang lomba?” Tanya gue sok heran.

“Ya banyak, kan lombanya ada macam-macam” perjelas pak Guntur sambil melihat handphonenya.

“ohh saya pikir saya doang”

“Ehiya Fadil kamu lomba Web Blog kan nak? Sudah tau tema-nya?” Pak Guntur balik bertanya.

“oh iya, sudah pak Go Green kan pak?”

“Bukan Go Green,  Soft Green.”

*NGIIING*

“Go-Blog” Sebut gue dalam hati. Kemudian bingung dikepala gue membakar keheningan.

Ah, belakangan gue baru tahu tema-nya adalah Soft Green. Soft Green tidak seperti Go Green. Go Green biasanya identik dengan lingkungan, alam dan semacamnya, sedangkan Soft Green yang dimaksud maksudnya adalah Internet sehat, lebih kepada pengetahuan. Duh mengingat bahan-bahan yang gue kumpulkan tentang Go Green sudah sangat banyak, gue cukup nyesek.
Akhirnya gue mencari bahan kembali. Ah Mahendra, mengapa kau begitu tega.

Keesokan harinya, dari pagi gue memulai kembali membuat Blog. Sejam, dua jam, tiga jam gue mulai merasa nyaman dengan internet Sekolah, Wi-fi yang biasanya begitu siput kini terasa begitu harimau, cepat sekali. Alhasil gue lebih banyak Online-nya dibanding mengerjakan tugas utama gue membuat Blog. Sedangkan Mahendra begitu serius dengan Blognya.

“Halah hek hek, serius amat sih lo buatnya” gue meledek. Dan Mahendra hanya tersenyum.

“Jangan dengerin Padil hek, dia itu cuman mau menghasut supaya dia bisa menang dan dia itu mau geser elo” Riva meledek dan gue mengeluarkan tanduk merah, kepala gue mulai berasap.

Mahendra hanya tersenyum, kali ini senyumnya membelah selat sunda.

Siang harinya, setelah sekian lama berada di depan layar komputer, gue mulai jenuh, tidak konsentrasi, gue kangen seseorang. Rahmi. Ah baru sebentar nggak ketemu sudah kangen. Rahmi ini seseorang yang istimewa bagi gue. Biasanya gue sering merhatiin dia kalo lagi ada di kelas, kali ini gue merhatiin komputer seharian, tapi untungnya gue tidak sampai jatuh cinta pula pada komputer.

Keesokan harinya gue sengaja tidak langsung memulai tugas gue di Lab komputer seperti kemarin, sengaja gue masuk kelas dulu, demi ketemu Rahmi tentunya. Setelah puas mengobrol beberapa jam, gue bergegas pergi ke Lab komputer. Gue memulai kembali tugas Web Blog. Tapi tidak lama kemudian, gue kembali malas-malasan. Gue memang susah fokus.

Sesekali gue nge-game yang ada di komputer. Gue melihat Mahendra yang ternyata sedang serius dengan Blognya “Wuih blog lo udah jadi ya? keren gini? Punya gue belum jadi apa-apa” gue menyapa.

“Belum jadi sih. Ah lo belum liat aja blognya Panca dil” jawab Mahendra sambil tertawa kecil.

“Panca siapa?” gue bertanya.

“Panca kelas sepuluh, dia juga ikut kita lomba Blog. Kita bertiga. Wuih blog dia keren dil” jawab Mahendra mencoba meyakinkan.

Gue penasaran. Gue masih belum yakin dengan ucapan Mahendra. Gue mencari anak yang bernama Panca di lab sebelah. Gue melihat seorang anak sedang serius dengan laptopnya

“eh lo Panca ya?” gue memulai percakapan.

“eh iya kak kenapa?” dia menjawab.

“lo ikut lomba blog juga? Coba sini gue lihat blog lo”

“iya kak ini liat aja” Panca menyodorkan laptopnya.

“Sadis” Kata gue dalam hati. Ternyata memang keren. Gue pun sadar gue belum ada seberapanya diantara mereka berdua. Mahendra dan Panca begitu serius dengan tugasnya, sedangkan gue malah main-main.

Keesokan harinya, sehari sebelum hari perlombaan dimulai, gue kembali mengumpulkan semangat gue. Saat gue berjalan menuju Pusdikkom gue melihat Rahmi sedang berada di depan koperasi, gue bergegas menghampirinya

“Emm Rahmi, aku hari ini nggak ke kelas ya, aku mau langsung ke Pusdikkom,persiapan aku masih belum selesai”

“Iya gapapa kok” Rahmi berbicara pelan sambil tersenyum manis. Ah gue jadi begitu bersemangat, seketika langit terlihat begitu cerah.

Gue mencoba fokus. Hingga pada sore hari Blog Mahendra sudah selesai dikerjakan, sedangkan gue masih sibuk menentukan template yang pas. Pak Guntur masuk ke lab “gimana Fadil blognya? sudah selesai?”
“emm su.. sudah pak” jawab gue ragu.

Pak Guntur memberi masukan-masukan terhadap blog gue, gue pun sadar ternyata masih banyak sekali yang kurang.

Sepulang dari sekolah gue kembali mengerjakan blog gue, hingga pukul 00.00 akhirnya gue baru selesai. Ah lega rasanya. Gue pun menatap kasur dengan mantab.

Bersambung ke Semangat Juara ( Part 2 )
07 Desember, 2012 0 komentar

Dilema Ujian Bahasa Indonesia

Kamis pagi, 6 desember 2012, ujian semester mata pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Soalnya mudah.. kalo cuman disuruh baca. Ngisi jawabannya juga gampang kalo ngasal. Soal bahasa indonesia kali itu lebih mirip koran pagi yang sering dibaca bapak bapak tiap pagi di beranda rumah dan mirip juga dengan majalah anak anak tanpa gambar. Tebal. Membosankan. Nggak! Ini nggak sekedar membosankan, ini lebih membosankan daripada nungguin pacar yang lagi di salon. Kalo soalnya ada gambar gambar kartunnya sih mungkin nggak jadi ngebosenin, semacam gambar Spongebob atau gambar Jimmy Neutron gitu, kan keren. Tapi, karena tuntutan nilai di raport, jadi gue berusaha keras untuk konsentrasi mikir. Nggak! Waktu itu gue bukan lagi mikirin mba mba kasir sebuah minimarket kok.
Sepuluh menit pertama membaca soal gue berhasil konsentrasi baca soal tanpa hambatan, gue berhasil mengerjakan lima soal. Sepuluh menit berikutnya tambah jadi sepuluh soal. Dan pada menit menit selanjutnya dan soal yang kesebelas gue mulai kehilangan konentrasi. Iya, gue emang tipe orang yang nggak bisa berlama lama konsentrasi. Bukan, gue kehilangan konsentrasi bukan karena mba mba kasir sebuah minimarket yang selalu senyum tiap kali gue cuekin.


Pada soal kesebelas gue mulai main mainin pensil. Gue melakukan ritual ritual kecil dengan pensil yang gue pakai untuk ujian, gue juga main mobil mobilan dengan pensil gue. Dan karena gue suka balap, gue coba buat lintasan mini di atas meja terus gue mainin pensil, penghapus dan peruncing seolah olah itu mobil balap. Beneran. Ini serius. Gue emang begini, nggak tau kenapa, mungkin hukum alam.

Gue lihat jam dinding, dan nggak kerasa 30 menit berlalu karena mainan mainan dadakan gue itu. Gue baru ngerjain sepuluh soal, itu juga belum tentu bener.

Lanjut gue ngerjain soal. Gue kerjain dengan seksama. Satu.. dua.. tiga soal gue baca dan berhasil gue lewati, gue lewati karena memang gue nggak tau jawabannya. Yah. Soal keempat mulai lagi, gue mulai pusing. Gue mencoba bereksperimen dengan permainan permainan lain yang lebih mengasyikan dari sekedar mobil balap. Tiba tiba dalam keheningan otak gue, terdengar suara helikopter lewat di atas sekolah. Bukan, gue bukan mau lari keluar kelas terus melambai lambaikan tangan minta tolong lalu teriak “Tolooooong paaaaaak saya nggak kuaaat! BANTUAAAAAN! BANTUAAAAAAAAN!” bukan. Gue jadi keinget masa kecil gue ketika gue masih senang main pesawat pesawatan lipat kertas. Gue lirik soal ujian. Tadinya soal ujian mau gue korbanin lipat lipat buat main pesawat pesawatan. Tapi untung gue sadar, soal ujian itu masih bisa digunakan untuk buat mainan mainan lain nantinya, seperti.. buat layang - layang.

Dan gue menemukan kertas bekas coret - coretan menghitung pada pelajaran Matematika beberapa hari yang lalu di dalam laci. Beruntunglah gue, kalo nggak mungkin soal ujian benar benar jadi kobannya.

Sukses buat pesawat pesawatan, gue merasa seperti kembali berjiwa bocah. Tapi nggak apa apa, keren.

Kembali gue lihat jam, kali ini waktu bermain gue agak lebih cepat, 15 menitan. Jadi sekitar 45 menit berlalu dengan serunya. Peserta ujian lain dengan tenang dan waspada takut ketahuan mencontek pekerjaan teman lainnya, gue malah asik bermain dengan dunia gue. Keren.

Dari 50 soal yang di ujikan, gue baru mengisi 10 soal dalam waktu kurang lebih 50 menit. Gue lihat pekerjaan teman gue yang duduk di belakang. Buuuh dia sudah ngerjain banyak, sekitar 40 soal. Hampir penuh. Gue heran, dari soal bahasa Indonesia yang mirip koran gitu dia bisa ngerjain secepat itu? Ntahlah, mungkin dia alien dari planet yang banyak penduduk indonesianya.

Jadi, gue berusaha konsetrasi kembali, gue kembali memusatkan pikiran gue. Gue bukan memusatkan kepada mba mba kasir, tapi gue memusatkan pikiran gue kepada angsa tetangga yang tadi pagi ngikutin gue berjalan sewaktu gue berangkat ke sekolah. Nggak tau kenapa, mungkin angsa - angsa itu mengira gue induk mereka karena leher kami sama panjang. Iya, gue sering di ikutin sama angsa angsa tetangga gue, ada sekitar 6 ekor. Gue sering betemu mereka (baca: angsa) patroli depan rumah gue. Muter muter keliling ke rumah gue, jalan lagi ke rumah tetangga lain. Ya, berkat patroli mereka kawasan rumah gue aman dari ancaman pencuri. Sebab, mereka akan menggonggong dan kadang mengaum di malam hari setiap kali melihat orang asing. *bohong*

Oh iya, ini kenapa jadi bahas angsa yang menggonggong? Oke. Maafin gue. Sampe mana tadi..

Karena merasa tertinggal jauh mengerjakan soal, gue naik motor. Nggak nggak, gue kembali membaca soal. Gue pahami soal demi soal, gue jawab soal demi soal dan salah satu peserta ujian di kelas gue ada yang beranjak dari tempat duduknya. Dia sudah selesai, teman teman gue yang lain juga ikut ikutan ngumpul dan satu persatu kelar dari kelas. Sedangkan gue.. bergelut dengan angsa tetangga.

Satu persatu peserta ujian mulai keluar dari ruangan, hingga tampak sepi. Pak Samroni yang saat itu memakai peci putih yang sedang mengawas ruang kelas gue pun bilang “waktu tinggal sepuluh menit lagi”. Sip. Gue berusaha tidak panik, sampai akhirnya peserta ujian yang tersisa hanya tinggal gue seorang.Pak Samroni bertanya kepada gue

“diiiil udah selesai beloooom?”
 
“bentar lagi pak duaaa lagiiii” jawab gue panjang.

“dua apa?” Pak Samroni kembali bertanya.

“dua halamaaaan.”

Kemudian gue menyesal, kalo tau begini kenapa gue nggak bawa blender ke sekolah, jadi kan lembar soalnya bias gue juice.

*teeeeeeeeeeet* terdengar bunyi bel yang menandakan masa berlaku status gue habis. *bohong lagi* Untung segera bunyi bel, kalo nggak mungkin gue sudah berubah buas terus gigit gigitin lembar soal.

Soal gue kumpul. Gue keluar kelas dengan tampang biasa aja. Seperti pasangan LDR yang gengsi, sebenernya kangen tapi sama sama bilang “biasa aja kok”.

~

Sepulangnya gue dirumah, siang, panas, gue buka buka twitter gue. Gue lihat sejauh timeline memandang pada ngegalauin nilai yang keluar. Macem macem yang gue lihat, seperti..

“duh nilainya yaa mengecewakan sekali”

“aaah nilainya bikin galau”

“nggak tega ngeliat nilai”

Ada juga.. “BAKAAAAAR PENGAWASNYAAAAA”

Bahkan.. “aku galau ngeliat nilai kecil tapi nggak lebih galau kalo ngeliat kamu deket deket dengan yang lain." sempet.

Gue juga pengin lihat nilai gue, jadi gue iseng iseng lihat di web site sekolah gue. Gue buka. Mata pelajaran pertama yang gue lihat, Bahasa Indonesia. Ternyata sudah keluar. Gue lihat nilai gue ternyata besar.. 56. Iya, Lima Puluh Enam. Keren.

Gue terdiam. Memang malam sebelum nya gue nggak belajar, gue berfikir  ‘halah pelajaran Bahasa Indonesia mudah kok, paling paling yang ditanya “ide pokok paragraf diatas adalah..” atau “gagasan utama dalam wacana diatas adalah..” hah mudah kok, nggak usah belajar deh malem ini.’ Dan ternyata soalnya nggak semudah yang gue pikirkan. Terus sudah tau semalamnya gue nggak belajar, di sekolah gue main main juga saat ujian.

Jadi, seperti yang dibilang teman gue, Primavera.. peliharalah angsa menggonggong yang banyak di rumah anda maka rumah anda akan aman dari pencuri Segala sesuatu yang gak disertai usaha yang maksimal emang gak pernah berhasil.” 

Yak, jadi sesuai dengan apa yang gue kerjakan, gue mengerjakan soal nggak serius, gue nggak belajar dan ya nilai yang gue dapat seadanya. Sesuai dengan apa gue kerjakan.

Dan.. Jangan meremehkan segala sesuatu yang menurut kita mudah, karena suatu saat hal yang mudah itu bisa menjadi begitu sulit.
11 September, 2012 0 komentar

Seharusnya Tidak Perlu Ada Hari Minggu


Di suatu sore di hari minggu, gue dalam posisi sedikit memprihatinkan di dalam kamar gue. Pagi pagi waktunya bangun tidur, gue dipaksa bangun. Saat pagi pagi waktunya sarapan, gue pun dipaksa harus sarapan. Saat pagi pagi waktunya bermain, gue  malah disuruh belajar sama bokap gue..   

          “ayah, padil main ya..?”
          “main kemana?”
          “seperti biasa lah, kerumah teman sebelah rumah”
          “ngapain?”
          “seperti biasa juga lah, nggak jelas”
          “tapi PR nya udah dikerjain belum?”
          “umm…emm…umm… udah semua kok”
          “yaudah kalo udah selesai semua”
          “asik main ya”


baru tiga langkah gue berjalan dengan wajah penuh harapan seperti akan bertemu bidadari cantik di dunia luar sana, bokap kembali bertanya..
“ohiya dil, semesteran kapan?”

Mendengar kembali bokap bertanya dengan pertanyaan seperti itu, gue bingung dan gue sontak berfikir bahwa rencana bermain gue pagi itu akan gagal mengingat pada waktu itu gue masih duduk di kelas 5 SD dan seminggu lagi akan ada ulangan semester pertama. Dan jika gue menjawab “seminggu lagi semesterannya” mungkin bokap gue akan membatalkan niat gue untuk bermain dan lebih menyuruh gue belajar saja di rumah. Gue juga gak mau bohong, daripada gue jawab “nggak tau yah guru nya belum ngasih tau” atau “lupa nih” Maka gue pun menjawab…

“masih lama kooooooook” yak.  Sama saja bohong ini berarti.

Dan bokap gue pun menjawab..

“masih lama? Kata adek minggu depan udah ulangan? Kan sekolahnya sama?”
“umm…umm..umm.. ohiyaya sama deng ya, minggu depan deng ya hehe”
“yaudah belajar aja gih”

Gue hanya menghela nafas dan spontan mengubah ekspresi wajah lalu kembali ke kamar. Saat itu yang ada di pikiran gue adalah “belajar ya? belajar? Belajar gak ya? Duh” Kemudian gue membuka lemari dan apa yang gue lihat? Bukan doraemon atau semacamnya. Tentu saja tumpukan buku cetak dan lembar-lemar soal yang diberikan guru. Semakin dilihat isi lemari semakin berasa bahwa tumpukan soal-soal itu lagi pada ngetawain gue. “hahaha kasian gak boleh main yaaa”. Terlintas pemikiran “mengapa hari minggu ini tidak di-skip saja? Doraemon kamu dimanaaa?”

Karena setelah ditunggu tunggu doraemon tidak datang - datang juga, gue pun memutuskan untuk skip hari ini dengan cara gue sendiri yaitu... Mencoba tidur. Bermacam cara gue gunakan supaya gue tidur. Mulai dari mencoba tidur dengan menghitung domba yang lompat pagar sampai gajah melompat pagar pun coba gue hitung demi tertidur. Tapi apa daya, INI MASIH PAGIIII !!! bagi gue tidur pagi pagi itu sulit. Ngantuknya aja sulit gimana mau tidur. Kan pagi pagi biasanya masih segar. Baiklah, gue mencoba cara lain waktu itu dengan cara bernyanyi “nina bobo ooo.. nina bobo.. kalau tidak bobo digigit nyamuk” tapi kemudian gue bertanya dalam hati..
         
“ibu sering nyanyi kayak gini sebelum gue tidur. tapi Nina itu siapa ya? Kok ibu gak pernah bilang? Ibu mau nyanyi buat Nina apa buat Padil sih waktu itu? Kenapa waktu ibu nyuruh si Nina tidur malah gue ikut tidur?”

Karena gue bingung dengan pertanyaan gue sendiri, yang sampe sekarang belum terjawabkan, gue pun mencari cara lain yaitu… mencari Nina. Ya bukanlah, gue main sebuah video game perang perangan di komputer dengan berharap gue bosan lalu mengantuk dan gue bisa tertidur. Dan gue pun memainkannya.

Gue main, kalah, main lagi, kalah lagi, main lagi, kalah lagi. Dan gue bukannya ngantuk dan bosan, mata gue malah semakin melek. Semakin diikuti game itu semakin seru dan menarik, gue juga merasa akan memenangkan pertarungan dalam game itu. Tapi, keadaan berkata lain, listrik seketika mati saat pertarungan sedang seru-serunya. Dan gue ingat, game itu juga belum gue save pada waktu itu. Memilukan.  Anak kecil seperti gue sudah harus belajar kesesakan hidup lewat sebuah video game.
Kembali, gue diam dan berfikir “apakah gue harus belajar? baiklah” gue buka lemari buku, gue ambil soal - soal bahasa Indonesia pada waktu itu, karena gue pikir soal bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling sederhana. Menurut gue.

Baru saja gue mau baca soal, bokap gue membuka pintu kamar gue dan berkata..

“dil beresin buku bukunya, makan dulu, udah siang”

Ada aja halangan, pada saat itu memang sudah jam makan siang yang menandakan berlalulah minggu pagi gue yang seharusnya gue lalui dengan bermain bersama teman - teman, tapi ini hanya dilalui di dalam kamar. Membosankan.

Tapi tidak apa - apa, waktu gue untuk belajar pun berlalu, gue berharap setelah makan siang gue bisa bermain bersama teman gue.

Saat makan siang pikiran gue jauh mengembara keluar jendela “semoga abis ini boleh main, amin amin amin.” Makan gue sudah habis, dan gue bertanya kepada bokap..

“apakah sekarang sudah boleh main?” mata berbinar binar penuh harapan.

Dan bokap gue menjawab..

“yaudah boleh tapi jangan lama - lama dan jangan jauh - jauh.” Udah kayak orang pacaran aja ya.

Senangnya saat itu tak bisa diperkirakan lagi. Gue berlari ke rumah teman gue yang jaraknya cukup jauh, sekitar…  tak ada jarak, hanya tetangga sebelah. Namanya Yudis. Saat di depan pagar gue memanggil teman gue itu..

“yudisss maaen yoooook ihihiihihihihihihihi ihihihihihihihi ihihihihi” tak ada jawaban.
 
“yudisss maen gak nihhhh? DIIIIIIISSSS?” Gue memanggil kembali.

Yang kali ini ada jawaban dari dalam rumah teman gue itu, dengan suara keras dan menyayat..

“YUDISNYA GAK ADA DIRUMAH, DIA BARU AJA PERGI DIIIL” yak. Ternyata  yang menjawab adalah kakaknya.

Dengan nada lemas gue hanya menjawab pelan sepelan pelannya “ooo yaauudaaah deeeeeh”.  Teman gue yang rumahnya dekat dan tidak jauh ya hanya si Yudis itu. Di samping rumah. Karena gue termasuk anak yang tidak suka main jauh - jauh gue memilih untuk pulang kerumah. Menundukan kepala dengan posisi ngesot ngesot seperti ulat. Srrrt. Srrrrt. Srrrrrt.

Sesampainya di rumah, bokap gue bertanya..

“waaah udah selesai mainnya? Cepet amaat? ehehehe”

“yudisnya baru aja pergi kata kakaknya” jawab gue dengan sedikit menunduk.

“ahahaha yaudah tidur aja sana, gak usah main”

Gue tidak menjawab, gue langsung masuk ke kamar gue dan terlihat ada teman gue yang sangat setia sedang tersenyum “untung masih ada kamu, guling.”

Karena sudah siang dan gue juga capek berpikir gimana caranya biar hari minggu gue gak sia sia, gue akhirnya memilih tidur siang, dan gue pun tertidur.

Sorenya gue bangun tidur gue langsung bertanya dalam hati “sudahkan berganti hari?” tapi gue lihat jam masih menunjukan pukul  04.00 yang berarti masih sore. Dan baru aja gue bangun yudis manggil manggil gue dari luar..

“fadil fadil main yooook”

Mendengar teman gue itu memanggil gue langsung keluar dan berkata..

“baiklah, tunggu ya gue mandi dulu”. Gue merasa inilah kesempatan terakhir gue buat main di hari minggu. Lalu gue bergegas mandi. Setelah mandi gue kembali menemui yudis di rumahnya.

“jadi kita main apa nih?”
          

“main layang-layang aja yuk”

Setelah itu gue dan yudis langsung pergi ke toko depan gang rumah untuk beli layang - layang dan benang layang - layang.

Sore itu angin cukup kencang untuk membuat layang - layang terbang. Dan tentu saja layang - layang gue dan yudis pun berhasil terbang. Tapi layang - layang gue cukup rewel waktu itu. Lumayan iri gue melihat layang - layang yudis yang terbangnya tenang kayak tidak punya dosa. Belum berapa lama terbang, layang - layang gue sudah tersangkut di pohon kelapa di dekat rumah gue. Sesak.

Gue bertanya dalam hati “mengapa ini harus terjadi?”. Lalu yudis berbicara dengan gue “beli lagi aja dil, kita main lagi, ini kan hari minggu, kapan lagi main ehehe”

lalu gue menjawab.. “malah seharusnya tidak perlu ada hari minggu.”
14 Agustus, 2012 0 komentar

Gara gara Game Online

DULU pas gue baru-baru masuk kelas 8 C di SMP 22 bandar lampung gue terlihat cupu, pendiem, masih malu-malu. Masuk kelas 8C gue sekelas lagi dengan temen gue di kelas 7 dulu, Ricky Aziz, Bintang Bimantara. Aziz dengan bintang ini termasuk anak yang doyan banget online, nge-game, sedangkan gue sendiri masih belum begitu paham dengan dunia online dan nge-game. yang gue tau entang online paling cuman facebook.

Dulu gue sering diajak aziz maen ke warnet buat maen. Tapi tiap kali diajak gue selalu nolak. Begitu pula Bintang, sering ngajak maen tapi gue tolak, berkali kali diajak gue pasti nolak. Gue selalu berfikir "ngapain coba". Pada akhirnya setiap mereka berdua main gak pernah ngajak gue lagi karena mereka tau gue pasti nolak.

Saat itu gue lagi rajin rajinnya belajar. Kelas 7 gue dapet ranking 10 besar, lumayan sih... paling nggak nama gue sempet terpampang di papan tulis saat pembagian raport. ehehe Kebetulan saat gue masuk kelas 8 C saat itu, gue sekelas dengan temen dekat gue Arfian Rizky dan Arimula, mereka berdua ini gue kenal saat gue ikut ekskul pramuka sewaktu masih di kelas 7. Teman dekat gue sewaktu  mengikuti ekskul pramuka selain mereka berdua ada juga Nofrian Fungki, Ravidi. Mereka berempat ini hobinya sama dengan Aziz dan Bintang, yaitu nge-game online. Tetapi hanya bedanya mereka berempat ini lebih rajin, rajin kewarnet. Sial, kenapa waktu itu gue dikelilingi anak-anak doyan game.

Suatu kali gue diajak main kewarnet bermain game Arfian, fungki, arimula dan ravidi yang namanya "Point Blank" sebuah game perang online yang terbesar di asia. Namun lagi lagi gue menolak ajakan tersebut.

Pada suatu siang saat kami pulang sekolah, tidak ada jam bimbel pada waktu itu jadi kami pulang cepat. Gue bertemu dengan Arfian, fungki, arimula dan ravidi di depan gerbang, mereka bilang mereka mau main di warnet dekat sekolah, kebetulan juga saat itu yang gue tau di rumah gue lagi gak ada orang, gue juga gak bawa kunci rumah. Jadi daripada gue pulang terus gue duduk depan pager disangka gelandangan, gue memutuskan untuk ikut dengan mereka kewarnet. Niat gue ikut bukan untuk main, gue hanya menonton saja.

Sampainya disana saat mereka ingin main game "Point Blank" mereka bilang mereka kekurangan 1 anggota buat War. Mereka memohon gue untuk ikut main. Gue gak mau tapi mereka tetap memohon... karena ada perasaan gak enak hati dengan mereka, gue ikut maen deh. Ini pertama kalinya gue maen yang namanya game online. Dan ternyata seru juga lho. wah disini nih gue mulai ketagihan.


Ilustrasi foto

Besok harinya sepulang sekolah mereka mengajak gue main lagi, dan pada saat itu gue tanpa ragu ragu langsung mengiyakan ajakan mereka. Kami main main main mainnnn terus sampai jadi malas belajar. Gue ketagihan, sampai-sampai pada saat mereka lagi malas bermain malah jadi gue yang mati-matian mengajak mereka main. Gue juga malah lebih jago dari mereka, grade gue jauh diatas mereka. Gue juga lebih rajin main daripada mereka. Sampai-sampai gue menginstal game online point blank tersebut di komputer gue dirumah. Waktu demi waktu kami habiskan untuk bermain game online.

Pada suatu hari, waktu itu hari jumat sekolah kami biasanya mengadakan senam pagi, setelah senam pagi biasanya siswa mengikuti ekskul yang di ikuti. Gue, Arfian, Ravidi, Fungki dan Arimula ini ada pada dalam satu eksul. yaitu Pramuka. Dan kebetulan pada saat itu gue lah ketua pramuka nya. Dan pada waktu itu setelah melakukan senam kami merencanakan untuk tidak ikut eksul melainkan nge-game online saja. Ketua nya aja kabur ekskul gimana anggotanya. parah memang. Dan kami keluar lewat pagar depan, dan ternyata......... kami ketahuan oleh walikelas kami. Sial memang. Tapi kami nggak balik lagi melainkan melanjutkan lari kami.

Besoknya kami ditanya oleh walikelas kami itu, soal keberangkatan kami kemarin. Dan mulai dari situ gue mengurangi jam main gue di warnet, dan gue gak melakukannya lagi sampai sekarang.

Lalu saat kenaikan kelas gue gak dapet rangking 10 besar. ya iyalah. Gue juga masuk kelas 9F, Kelas terakhir yang kata orang kelas nakal, dan yang lebih mengejutkan lagi, gue sekelas dengan Arfian, Nofrian Fungki dan Arimula. Kami sebenarnya masih main point blank pada saat itu, tapi tidak merajalela seperti saat kelas 8.

Sekarang gue udah kelas 2 SMA, dan gue udah gak main main lagi yang namanya Game online, gue udah merasa bosen juga. Temen temen gue yang lain juga mungkin sama dengan gue, bosen. Tapi, beberapa waktu lalu gue iseng mau main lagi, pas gue mau buka ID Point Blank gue, ternyata ID gue udah di Banned sama Game Master nya. ahaha

Namun, gak ada rasa penyesalan dari gue udah main Game itu sejak dulu, karena gue udah lupa sama game itu. Bukan lupa sih, hanya berhenti mengingat-ingat, kata-kata "lupa" buat gue terlalu keras. Lebih tepatnya udah lepas dari kecanduan game tersebut. Kalo orang orang yang udah gila game pasti bakal galau berminggu-minggu kalo ID nya di Banned.

Sekian. 
10 Agustus, 2012 11 komentar

Cerita Tentang Saya



 
;